Setelah Cemari Sumber Air Masyarakat Adat Long Beluah PT. Gawi Plantation Enggan Penuhi Janji Plasma

 

IMG-20170420-WA0026
Pihak Perusahaan Sawit PT. Gawi Plantation yang hanya diwakili manajernya menyampaikan beberapa pernyataan dalam menolak tuntutan Masyarakat Adat Long Beluah

Kaltim.aman.or.id Perusahaan sawit PT. Gawi Plantation menolak semua tuntutan Masyarakat Adat Long Beluah. Pada Aksi tanggal 11 April 2017 lalu, Masayarkat Adat Long Beluah menentang keras pembuangan limbah sawit di sungai yang menjadi sumber air bersih masyarakat. Selain itu masyarakat juga menuntut janji plasma yang perusahaan.

Dalam pertemuan lanjutan di Balai Adat Desa Long Beluah (20/04/2017) PT. Gawi Plantation hanya dihadiri manajer, sebelunya masyarakat berharap kehadiran Dewan Direksi PT. Gawi Plantation.

IMG-20170420-WA0023
Balai Adat Desa Long Beluah dipenuhi warga yang menuntut PT. Gawi Plantation terkait pencemaran lingkungan dan janji plasma

Menurut Pimpinan Aksi Masyarakat Adat Long Beluah, Bang Helis “Pertemuan ini benar – benar hanya mengulur waktu saja, kami sangat kecewa dengan hasil ini. Yang kami harapkan adalah Dewan Direksi Perusahaan yang datang tapi ini malah pimpinan cabang saja yang menemui kami. Pertemuan ini benar – benar tidak menghasilkan apa – apa. Mengenai limbah perusahaan yang mencemari sungai perusahaan hanya meminta maaf, bukan itu yang kita inginkan tapi ada kelanjutan apalagi terkait plasma yang dijanjikan belum ada kejelasan.”Tegas Bang helis.

Hal senada juga diungkapkan Yohanes Lihiu “pertemuan ini sebenarnya hanya menghabiskan waktu saja, pertemuan sejenis ini sudah beberapa kali dilakukan. Apabila perusahaan dan pemerintah memang serius dalam hal ini masalah ini tidak akan sampai 2017, dari 2012 kasus ini hadrusnya sudah selesai. Pertemuan – pertemuan seperti ini tidak akan ada titik temu.”Tambahnya.

Dalam pertemuan ini juga dihadiri Kepala Desa Long Beluah dan Camat Tanjung Palas. Selain itu juga turut hadir wakil dari Dinas Perindustrian Perdangan dan Koperasi (Disperindakop) Kabupaten Bulungan dan Dinas Perkebunan Kabupaten Bulungan.

Pertemuan ini tidak mencapai titik temu antara perusahaan dan Masyarakat Adat long Beluah dimana pihak perushaan masih menolak memenuhi semua tuntutan masyarakat. Rencananya akan ada pertemuan lanjutan di awal bulan Mei 2017 guna membahas tuntutan masyarakat yang belum juga dilaksnakan oleh PT. Gawi Plantation.

Masyarakat Adat Dayak Wehea di Bea Nehas Rayakan Upacara Adat Bob Jengea

received_456346778029888
Tari Tembambataq pada Upacara Adat Bob Jengea di Desa Bea Nehas

kaltim.aman.or.id Bob Jengea di Desa Bea Nehas,  Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kaltim (17/04/2017) berlangsung meriah. Upacara ini merupakan upacara puncak dari Lom Plai yang sebelumnya berlangsung di Desa Nehas Liah Bing.

Upacara Adat Bob Jengea biasanya dilakukan setiap tahun oleh Masyarakat Adat Dayak Wehea yang berada pada enam desa di Kecamatan Wahau. Upacara ini kemudian secara berurutan dilakuan sesuai tanggal yang telah di sepakati di enam desa.  setelah Lom Plai di Desa Nehas Liah bing yang berlangsung 7 – 8 April 2017, maka upacara adat lanjutan yang disebut Bob Jengea Berlangsung di Desa Bea Nehas ini. rencananya sekitar tanggal 22 – 23 April 2017  Upacara Adat Bob Jengea akan dilanjutkan ke Desa Diaq Lay. Ranagkaian Upacara Adat Bob Jengea akan diakhiri dengan upacara Adat gabungan enam desa yang disebut dengan Petkuq Bob Jengea yang akan berlangsung di Desa Long Wehea.

received_456601234671109
Foto bersama setelah pawai Upacara Adat Bob Jengea

Menurut Musa salah seorang Tokoh dari Komunitas Dayak Adat Wehea “Bob Jengea ini bertujuan untuk merayakan serta bentuk rasa syukur setelah menyelesaikan panen padi, selain itu Bob Jengea juga merupakan bentuk solidaritas kebersamaan di msyarakat, rasa terima kasih serta bentuk penghargaan kepada Leluhur dan pencipta (Metta).”kata Musa.

Biasnya dalam Bob Jengea Bagi Komunitas Adat Dayak Wehea dilakukan Tarian massal Tembambataq dan Tari Hedoq. Dalam Upacara Bob Jengea di Bea Nehas kali ini juga dilakukan pawai adat yang dilakukan di padi hari.

received_456242201373679_mh1492688100018
Pemasangan umbul – umbul untuk persiapan Upacara Adat Bob Jengea

Komunitas Adat Dayak Wehea Sendiri terdiri dari enam desa di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kaltim yang terbagi dalam tiga Das Tellen yaitu Bea Nehas, Diaq Lay dan Dea Beq serta tiga Desa di DAS Wehea yaitu Nehas Liah Bing, Long Wehea dan Diaq Leway.

Kapolsek Tanjung Palas Barat Siap Kawal Proses Tuntutan Masyarakat Adat Long Beluah Terhadap PT. Gawi Plantation

IMG-20170413-WA0023
Kepala Desa Long Beluah membuka blokade jalan untuk peloadingan PT. Gawi Plantation

Kaltim.aman.or.id. Blokade jalan yang dilakukan oleh Masyarakat Adat Long Beluah terhadap kegiatan peloadingan limbah kelapa sawit PT. Gawi Plantation di Sungai Baluah, Kecamatan Tanjung Palas, Bulungan, kaltara akhirnya dibuka kembali oleh Kepala Desa Long Beluah. Pembukaan Blokade ini juga disakasikan oleh Camat Tanjung Palas Barat dan Kapolsek Tanjung Palas Barat (12/04/2017).

Pembukaan blokade ini bermula dari hasil koordinasi yang diselenggarakan oleh Camat Tanjung Palas Barat, Kapolsek Tanjung Palas Barat dan Kepala Desa Long Beluah di Balai Pertemuan Umum Kecamatan Tanjung Palas Barat sebelum pembukaan blokade.

Menurut salah seorang tim aksi blokade, Yohanes Lihiu “Meski dengan berat hati kami menerima kesepakatan hasil koordinasi ini. Mengingat Kepala Desa Long Beluah bertanggung jawab membuka blokade dengan syarat jika dalam kurun satu minggu sejak dikeluarkannya surat pernyataan perusahaan tidak juga memenuhi tuntutan masyarakat, maka kepala desa sendiri justru akan kembali memimpin blokade jalan dan menghentikan seluruh aktifitas perkebunan sawit PT. Gawi Plantation.”Cetus Lihiu.

Lihiu juga memaparkan bahwa saat penandatanganan surat pernyataan Kapolsek Tanjung Palas Barat mengatakan kepada warga bahwa dirinya siap mendampingi dan mengawal proses ini sampai kemanapun juga, kapolsek juga mengajak para tokoh masyarakat, kepala desa dan muspika pergi ke Tanjung Selor pada hari yang sama guna membahas persetujuan ini dengan pihak perusahaan dan kapolsek berharap pihak PT. Gawi Plantation konsekuen dengan janji mereka kepada masyarakat.

IMG-20170413-WA0021
Penandatanganan surat dari berbagai pihak mulai dari Kepala Desa Long Beluah, Camat Tanjung Palas Barat, Hingga Kapolsek Tanjung Palas Barat terkait pembukaan blokade jalan,

Perusaan sendiri dari aksi hingga dibukanya blokade tidak pernah datang untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Setelah membuka blokade jalan, Kapolsek Tanjung palas Barat dan Kepala Desa Long Beluah mengajak koordinator aksi untuk ke Tanjung Selor, Bulungan, Kaltara bertemu dengan pihak PT. Gawi Plantation

Cemari Sungai Beluah Masyarakat Adat Tuntut PT. Gawi Plantation

IMG-20170411-WA0013
Aksi Masyarakat Adat Dayak Kayan Ga’ai menghentikan peloadingan perusahaan

Kaltim.aman.or.id. Masyarakat Adat Dayak Kayan Ga’ai Desa Long Beluah, Bulungan, Kaltara melakukan aksi blokade jalan dan menghentikan peloadingan Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit PT. Gawi Plantation yang merupakan anak perusahaan dari PT. Wings Group (11/04/2017).  Aksi ini dilakukan sebagai protes atas pencemaran lingkungan yang dilakukan perushaan dengan membuang limbah sawit ke Sungai Beluah bahkan hingga ke dam air bersih masyarakat.

Menurut salah satu warga yang ikut dalam aksi, Yohanes Lihiu mengatakan “limbah sawit ini dibiarkan berserakan di peloadingan yang tepat di pinggir sungai, bahkan sering kali dibuang di sungai apabila sudah melebihi kapasitas sehingga mencemari sungai”.Tegasnya.

IMG-20170410-WA0020
Tuntutan warga untuk bisa bertemu direksi perusahaan

Yohanes juga menambahkan perusahaan juga sudah menanam sawit bantaran Sungai Beluah sudah dan merusak sumber air warga sehingga warga mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Perusahaan pernah berjanji untuk membangun sumber air bersih di Sungai Keluh tapi hingga sekarang tidak pernah mereka realisasikan.

setelah hadirnya perusahaan sungai dirasakan sangat tercemar. selain kesulitan air bersih, sungai yang melewati perkampungan warga juga mengalami penurunan jumlah tangkapan ikan warga untuk konsumsi sehari – hari dengan disusul berbagai macam penyakit pencernaan yang dialami warga karena mengkonsumsi air sungai yang tercemar.

Selain masalah air bersih aksi warga juga menuntut plasma yang pernah dijanjikan oleh PT. Gawi Plantation.

IMG-20170410-WA0011
Limbah sawit tepat di pinggir sungai yang sering mencemari sungai

Aksi yang berlangsung dari pukul 13.00 wita ini masih belum mendapatkan kepastian dari pihak perusahaan, ada dugaan perusahaan mengulur – ngulur waktu terhadap keinginan warga untuk bertemu direksi perusahaan.

Masyarakat akan terus melakukan aksi ini sampai perusahaan memenuhi janjinya. Selain itu masyarakat berencana melaporkan kasus pencemaran lingkungan dan pengabailan tanggung jawab perusahaan sawit ini kepada BLH atupun KLHK agar mendapat perhatian dari pemerintah sehingga pemerintah dapat menindak perusahaan yang mengabaikan kewajibannya.

RESOLUSI MUSWIL II AMAN KALTIM

DSC_0642

 

Resolusi Muswil II AMAN Kaltim

Samarinda, 22-23 Januari 2017

Kami, Masyarakat Adat Kalimantan Timur, mendesak kepada Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota se-Kalimantan Timur untuk tidak memberikan ijin pertambangan dan perkebunan kepada investor di wilayah adat dan di hutan adat. Kepada pemerintah Kabupaten/Kota se-Kalimantan Timur agar segera menetapkan Wilayah Adat dan Hutan Adat setiap komunitas masyarakat adat.

Kami menyatakan bahwa, Masyarakat Adat selama ini mampu mengelola dan menjaga sumber dayanya secara berkelanjutan secara turun temurun di bumi. Hubungan antara alam sebagai ibu bumi dan sumber kehidupan, dengan Masyarakat Adat sebagai penjaga alam demi masa depan anak cucu, merupakan suatu fakta yang tak terbantahkan dan mewarisi hak untuk menjaga keamanan, ketertiban dan keseimbangan hidup bersama, termasuk hak untuk bebas dari segala macam bentuk kekerasan dan penindasan, baik di antara sesama masyarakat adat dan antara masyarakat adat dengan alam sekitarnya maupun antara masyarakat adat dengan masyarakat lainnya, sesuai dengan sistem hukum dan dan kelembagaan adat kami masing-masing.

Dengan ini kami menyerukan :

Resolusi Musyawarah Wilayah (Muswil) II Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kalimantan Timur (AMAN Kaltim) di BAPELKES Kaltim, Samarinda 22 – 23 Januari 2017

  1. Mendesak pemerintah untuk segera melaksanakan putusan 35/PUU-X/2012, Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa Hutan Adat adalah Hutan yang berada di wilayah adat, dan bukan lagihutan negara
  2. Mendesak pemerintah daerah untuk mempercepat pembahasan dan pengesahan rancangan perda tentang pengakuan dan perlindungan hak –hak masyarakat adat di kabupaten/kota.
  3. Mendesak pemerintah daerah untuk segera melaksanakan Permendagri 52 tahun 2014
  4. Mendesak pemerintah daerah Kabupaten/kota untuk segera melaksanakan Perda Kaltim No.1 tentang pedoman PPMHA
  5. Mendesak pemerintah daerah untuk menghentikan kriminalisasi, diskriminasi, dan intimidasi terhadap Masyarakat Adat
  6. Mendesak pemerintah daerah untuk segera meninjau ulang seluruh sertifikat dan pemberian Hak Guna Usaha yang diberikan diatas Wilayah Masyarakat Adat
  7. Mendesak pemerintah daerah untuk untuk segera meninjau ulang penetapan kawasan hutan dan perijinan kehutanan diatas wilayah masyarakat adat
  8. Mendesak perusahaan – perusahaan yang beroperasi di Wilayah Adat, baik perkebunan sawit, hutan tanaman industri maupun perusahaan tambang untuk mengembalikan hak – hak masyarakat adat
  9. Meminta PB AMAN, PW AMAN dan PD AMAN untuk melakukan pendampingan dalam pembelaan masyarakat adat
  10. Semua pihak harus menghormati dan menghargai adat istiadat setempat

Demikian seruan ini agar dilaksanakan oleh pemerintah disegala lini dan semua pihak yg berkompeten melaksanakan resolusi ini.