Pelayanan Yang Berliku di BPN Kaltim Hambat Warga Muara Tae Dapatkan Salinan HGU Peusahaan Nakal Di Wilayah Adat Mereka

Pertemuan perwakilan Warga Muara Tae saat meminta salinan HGU perusahaan di Muara tae ke Kanwil BPN Kaltim

Kaltim.aman.or.id Setelah memenangkan sengketa informasi publik di Komisi Informasi Provinsi (KIP) Kaltim dengan pihak Kanwil BPN Kaltim terkait HGU dua Perusahaan sawit PT. Borneo Surya Mining Jaya dan PT. Munte Waniq Jaya Perkasa, Masyarakat Adat Muara Tae kembali mendatangi kantor BPN untuk mendaptkan salinan HGU dua perusahaan ini yang merupakan informasi publik ini.

Dalam pertemuan dengan pihak BPN, salinan HGU ini belum bisa diberikan dengan alasan bahwa atasan bidang lima yang menangani konflik sedang tidak adat di tempat.

Menurut Saiman, Perwakilan Warga Muara Tae selaku pemohon salinan HGU ini “Sistem pelayanan di BPN ini sangat berbelit – belit dan berliku – liku hal ini kadang diperburuk dengan pejabat kepala bidang yang kadang tidak ditempat sehingga pelayanan merekapun ikut terhambat. Padahal menurut petugas di BPN, atasan bidang lima yang bertanggung jawab memberi surat ke bidang lain terutama bidang satu dan dua terkait salinan HGU dan titik koordinat perusahaan.”Tegas Saiman.

“Seharusnya lembaga seperti BPN punya pusat layanan informasi publik terpadu sehingga masyarakat yang berkepentingan dapat dengan mudah dan cepat terlayani.”Tambah Saiman.

Pihak Warga Muara Tae sendiri akhirnya harus kembali k e BPN senin depan hingga kepala bidang lima berasda di tempat.

Ritual Pengobatan Masyarakat Adat Dayak Wehea

Salah seorang Emta sedang melakukan Ritual Adat Njuq dengan media boneka. Selain boneka juga digunakan parang dan beberapa perlengkapan lainya.

Kaltim.aman.or.id Masyarakat Adat Dayak Wehea di Kampung Bea Nehas, Muara Wahau, Kutai Timur Kaltim mengenal ritual Adat untuk pengobatan Dan penyembuhan yang disebut Ritual Adat Njuq.

Ritual ini sering dilakukan oleh Komunitas Adat Dayak Wehea termasuk di Kampung Bea Nehas.

RitualAdat Njuq sudah dipraktekan oleh Masyarakat Adat Dayak Wehea secara turun temurun. Ritual in sendiri biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian khusus yaitu kemampuan berkomunikasi dengan roh – roh leluhur. Para pelaku ritual ini juga oleh Masyarakat Adat Dayak Wehea disebut Emta. Jumlah Emta dalam ritual bisa Dua hingga tujuh orang tergantung kemampuan orang yang akan melaksanakan ritual.

Nak Blan atau balai yang dikelilingi oleh para Emta saat prosesi Ritual Adat Njuq

Proses ritual biasanya dilakukan Dua atau tiga Hari.

Saat memulai ritual, Emta terlebih dahulu memanggil roh – roh leluhur yang akan membantu dalam proses ritual ini. Setelah melakukan proses sawaian kemudian para Emta mulai mengelilingi balai kecil yang disebut Nak Blan sebanyak sekitar 7 kali dengan membawa perlengkapan ritual seperti boneka Dan parang.

Proses selanjutnya adalah pengobatan kepada pasien dengan menggunakan telur yang disentuhkan kepada pasien. Mulai Dari kepala hinggal ujung kaki. Kemudian telur dipecah setelah telur bercampur dengan panyakit – penyakit pasien.

Perlengkapan yang harus disiapkan dalam Ritual Adat Njuq

Setelah ritual adat selesai, semua perlengkapan harus dibongkar Dan pasien harus bepantang sesuai dengan yang disaimpaikan oleh Emta seperti tidak boleh membuka rumah Dan menerima tamu selama sekitar tiga hari dengan memberi tanda daun pisang yang digantung didepan rumah.

Pada hari ketiga berpantang, para Emta kembali melakukan ritual penutupan yang mengakhiri proses berpantang yang juga merupakan penutupan proses Ritual Adat Njuq

Selama proses Ritual Adat Njuq tidak boleh ada kucing dan dilarang menyentuh langsung Emta. Ini merupakan pantangan untuk Emta.

 

 

Oleh : Beang Lie ( Masyarakat Adat Dayak Wehea)

Tolak Ganti Rugi Penggusuran. PT. ARI Malah Polisikan Masyarakat Adat Setelah Gusur Paksa

Pertemuan mediasi Warga Komunitas Adat Dayak Benuaq Tementekng dengan PT. ARI di Kantor Kecamatan Muara Lawa, Kutai Barat, Kaltim

Kaltim.aman.or.id Kasus penggusuran paksa PT.Aneka Reksa Internasional (PT.ARI) terhadap lahan Warga Komunitas Adat Tementekng di Kampung Dingin, Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai barat, Kaltim akhirnya sampai di jalan buntu. PT. Ari menolak mengganti rugi penggusuran yang dilakukan bahkan enggan mengembalikan lahan warga.

Setelah melalui berbagai proses mediasi dan pertemuan pihak perusahaan tetap tidak bersedia mengganti rugi apalagi mengembalikan lahan warga yang telah mereka gusur paksa.

Dari hasil pertemuan mediasi di Kantor Kecamatan Muara Lawa (26/04/2018) pihak perusahaan enggan memenuhi tuntutan warga bahkan melaporkan salah satu warga saat mediasi masih berjalan. warga baru tindakan mengetahui tindakan perusahaan ini setelah adanya pemanggilan dari kepolisian atas laporan dari pihak perusahaan tertanggal 23 April 2108 dengan tuduhan menghalangi kegiatan perusahaan.

Tindakan perusahaan ini sangat disayangkan oleh Lusia, Warga Kampung Dingin yang bersengketa dengan perusahaan “Pihak perusahaan memang tidak pernah menghagai adat istiadat kami,  PT. ARI sengaja menggunakan warga lain untuk menguasai wilayah kami. selain itu mereka juga memanfaatkan kepala adat terdahulu yang tidak sah statusnya untuk pelepasan lahan kami.”Kata Lusia.

“Saat proses mediasi masih berjalan, pihak PT.ARI diam – diam melaporkan kami ke polisi, ini melukai proses yang sedang berjalan.” Tambah Lusia.

Hingga saat ini belum ada perkembangan terbaru penggusuran dari pihak perusahaan terhadap lahan sengketa ini karena warga tetap mempertahankan lahan ini. warga sendiri harus berhadapan dengan pihak kepolisian akibat laporan dari pihak perusahaan